Home film 2017, film baru, movie online, tentang film • Orgasme Bersama Prenjak

Orgasme Bersama Prenjak

 - 

Menjual diri dengan hanya memperlihatkan kelamin, ini adalah sebuah kisah satir tentang budaya dan kondisi ekonomi yang ada.

Bagi anda yang tinggal di Jogjakarta dan akrab dengan setiap lorong-lorong gelap hingga hinggar bingar dunia malamnya, pasti tahu atau minimal pernah mendengar tentang praktik prostitusi dengan menggunakan korek api di alun-alun selatan setiap kali ada sekaten atau pasar malam. Fenomena itu merupakan dasar cerita dari sebuah film nonton movie pendek berjudul ‘Prenjak (The Year of Monkey)’.

Kali ini, kami akan mengajak anda untuk membahas salah satu film pendek terbaik yang berhasil menang di ajang festival film bergengsi yaitu, Cannes Film Festival. Prenjak mengisahkan tentang seorang prempuan bernama Diah yang menjual diri dengan cara memperlihatkan alat kelaminnya dengan cara mengintip dengan sebatang korek api.

Prenjak Berkicau Jika Ada Pasangan

Diah, seorang prempuan yang bekerja di restoran tengah dilanda kesulitan ekonomi. Dia membutuhkan uang secepatnya, namun penghasilan sebagai pekerja restoran tidak cukup. Diah memiliki rekan kerja bernama Jarwo, pada jam istirahat dia mengajak Jarwo ke sebuah ruangan dengan sebuah meja bertplak putih dan dua buah bangku yang saling berhadapan.

Di depan Jarwo, Diah mengatakan bahwa dirinya sedang membutuhkan uang. Kemudian Diah menyodorkan satu kotak korek api, dia menghargai sebatangnya 10.000 rupiah. Jarwo merasa itu terlalu mahal, dan menolaknya. Namun Diah bukan menawarkan korek api itu untuk membakar sesuatu, tapi itu adalah media yang dimiliki Diah untuk menjajakan diri. Singkatnya, Jarwo boleh mengintip alat kelaminnya dengan menyalakan korek api, dan selama korek api itu menyala sajalah Jarwo memiliki kesempatan untuk melihatnya. Jarwo pun menyanggupi tapi dengan satu syarat, Diah pun harus melihat alat kelaminnya.

Alat Kelamin yang Memenangkan Cannes Film Festival

Film Prenjak (The Year Of Monkey) adalah film pendek berdurasi 12 menit karya Wregas Bhanuteja. Mengangkat fenomena pelacuran yang marak terjadi di alun-alun Yogyakarta sekitar tahun 1980-1990an. Pelacuran yang hanya mempertontonkan alat kelaminnya dengan cara diintip oleh pelanggan dengan menggunakan sebatang korek api yang menyala, satu batangnya diberi harga yang dikira sesuai.

Walaupun tidak sevulgar itu tapi Wregas benar-benar memperlihatkan vagina dan penis dibalik cahaya remang-remang nyala korek api. Ada banyak hal yang disinggung oleh Wregas dalam film berdurasi 12 tersebut, walaupun demikian itu sama sekali tidak mengurangi makna dari film tersebut.

Prenjak sendiri merupakan nama burung. Menurutnya burung prenjak hanya bisa berkicau jika memiliki pasangan, jika dia hanya sendirian tidak lagi dia akan berkicau. Ini pula yang terlihat dari sosok tokoh Diah, seorang prempuan yang terhimpit masalah ekonomi sebab ditinggal pergi pasangannya, sehingga membuatnya terpaksa menjajakan diri.

Bukan hanya tema mengenai feminisme, budaya dan kondisi ekonomi yang dialami oleh seorang prempuan, namun tuduhan bahwa filmnya adalah film porno lah yang membuat dia sedikit khawatir. Bukannya tidak ada pihak-pihak yang mengancam akan memboikot pemutarannya filmnya, mengingat ketika di putar di pasar Indonesia hal tersebut pastilah terjadi.

Indonesia terlalu memegang erat budaya timur, sehingga hal-hal berbau kelamin tersebut dirasa vulgar untuk dipertontonkan. Wregas sendiri tidak berharap banyak Prenjak bisa diterima dan ditonton oleh banyak orang di Idonesia, dia sangat sadar bahwa filmnya ini bukan untuk pasar Indonesia. Di Eropa film dengan tema seperti ini jauh lebih bisa diterima daripada di negara pembuatnya sendiri.

Nyatanya Prenjak berhasil memenangkan salah satu ajang festival nonton film online paling bergengsi, yaitu Cannes Film Festival. Hingga kini film Prenjak sudah tampil di banyak festival luar negeri dan mendapatkan banyak apresiasi di luar Indonesia.

Author:inview